Wednesday, September 9, 2009

RESENSI BUKU: CAHAYA DI KOTA CAHAYA

RESENSI BUKU: CAHAYA DI KOTA CAHAYA

Judul : Paris Lumiere de l’Amour : Catatan Cinta Dari Negeri Eiffel
Penulis : Rosita Sihombing
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House, Cetakan I : Mei 2009
Tebal : xi + 172 halaman
Harga : Rp. 32.000,-

PARIS. Apa yang akan terbayangkan ketika anda mendengar atau membaca nama itu? Yang langsung terlintas dalam benak anda pastilah sebuah kota indah nan romantis tempat sang nyonya besar Eiffel berdiri megah bermandi cahaya saat malam tiba. sebuah kota penuh inspirasi bagi siapa saja.
Bagi kita yang bgitu tertarik dengan kota ini, maka buku Catatan cinta dari negeri Eiffel ini adalah salah satu rekomendasi yang wajib dibaca. Ditulis dengan gaya yang lugas, penyampian yang tidak berbelit-berbelit dan sederhana membuat buku ini begitu menyegarkan, ringan tapi tetap informative. Di dalamnya kita bisa menemukan banyak sisi-sisi menarik dari kehidupan di paris. Mulai dari keadaan social budaya, ekonomi, politik, agama serta aspek lainnya komplit tersedia dalam buku ini. Cerita-cerita ringan dan sederhana berbalut senyum tawa ataupun haru yang langsung dialami oleh penulis sebagai Full time mother tersaji apik dalam lima bab yang lebih dari cukup untuk menambah pengetahuan kita. 
Saat kita membaca buku ini, kita akan menemukan banyak pelajaran tentang bagaimana hidup di kota paris. Bagaimana menempatkan diri sebagai muslim yang tetap survive walaupun minoritas, menjadi ibu rumah tangga yang tetap bisa menyajikan gado-gado meskipun ala paris, repotnya mengganti kunci rumah dan sampai harus mengeluarkan uang yang jika di tambah sedikit lagi bisa untuk membeli tiket PP Jakarta-Paris karena saking mahalnya, atau bagaimana merayakan moment-moment istimewa dengan suka cita. Dan yang menjadi catatan penting adalah bahwa semua itu memang nyata dan merupakan pengalaman dari penulis sendiri. Dan pengalaman itu semua dibagi untuk kita pembacanya. Buku ini bertabur pengalaman unik, sederhana, namun sarat makna. Membaca buku ini membuat kita seperti sedang membaca diary curahan hati dari penulisnya. Ah, tidak berlebihan rasanya bila saya menyimpulkan bahwa penulisnya sendiri adalah cahaya yang tidak kalah bersinarnya dari cahaya kota cahaya. Masih tidak percaya? Baca saja dan anda akan menyetujui pendapat saya..

Paris???? Kapan ya saya akan kesana??? Insya Allah bisa!!!!



Tuesday, June 9, 2009

Pulang, sayang...

Kemarin Ibu bilang:

" Kembalilah pulang, sayang...

Karena hati lelah memeluk bayang-bayang...

mengapa kau biarkan diri mu

seperti sebatang ilalang yang hilang di padang gersang...

sementara hamparan savana menantimu datang,

seperti waktu kecil dulu ketika kau baru belajar menerbangkan layang-layang..

Aku bilang:

" Aku akan pulang, ibuku sayang...

tapi tunggu sampai aku bisa membuat

karang mengerang diterjang gelombang...  

Friday, May 15, 2009

Sajak tak bersayap

Sajak ini takkan sampai kemana-mana

apalagi terbang kepangkuanmu hingga bisa kau baca

sayapnya telah patah

karena aku terlalu keras menggores pena

Sajak ini takkan sampai kemana-mana

hanya tergeletak pasrah di atas meja

angin tak jua bersedia membawanya

karena sayapnya tak lagi indah

seperti dulu waktu masih berwarna azzura

Sajak ini takkan sampai kemana-mana

sebenarnya bukan karena sajaknya tak bersayap

atau angin tak bersedia mengantarnya

itu hanya alasan yang kubuat-buat saja

Sajak ini takkan sampai kemana-mana

adalah tersebab sajak ini memang tak bermakna

hingga tak pantas dibaca siapa-siapa

Ah, aku memang tak pernah cakap bermain kata...

Menurutmu aku gila?

Seperti Subuh yang hanyut dihantam Tsunami Desember itu, 

peta kesadaranku koyak dilamun ombak

cermin kejagaanku retak berbentuk lagi pun tidak

pasir putih di otakku pun porak

hingga pikir warasku tak ada tempat untuk bertapak

        Oh, siapa yang membuatku begini?

        Apa mereka yang membaptisku sebagai si gila?

        dasar serigala berbulu domba....

        padahal jiwa mereka sakit lebih parah

Tapi, menurutmu apa aku benar-benar gila?

Rayu Pelacur untuk Tu(h)an

Tu(h)an, kemarilah dekat padaku

jangan jauh-jauh agar aku memeluk-Mu

tak perlu takut karena aku takkan melukai-Mu

apalagi seperti Nietzche yang begitu tega membunuh-Mu

Tu(h)an, Kesinilah duduk di dekatku

Mengapa berdiri di situ saja seperti terpaku

apa Kau malu berjumpa denganku yang pelacur belaka

yang tak sesuci perawan Maria

Tu(h)an, Ayolah dengar ceritaku

agar kau tahu kalau pelacur seperti ku hanya menjual tubuh

sementara cintaku hanya untukmu saja

tak terganti dan tak terbagi

Tu(h)an, terimalah ini sesajiku

persembahanku yang paling mewah

secawan anggur yang kuramu dari keringat, air mata dan darah

terima kurbanku seperti Habil putra Hawa

meskipun Qabil merampas nyawanya

Tu(h)an, Mengertilah seperti aku mengerti-Mu...

Friday, May 8, 2009

Aku ingin menjadi pengembara

Aku selalu ingin menjadi pengembara

singgah di 1001 negeri pada setiap ziarah

mengakrabi tiap musim pada setiap jengkal jelajah

dan berbetah menjadi bagian dari kafilah sejarah...

Siangnya,

kan kurenggut bibir matahari dan melumatnya

hingga tak ada yang bersisa selain hangatnya

di tubuhku yang berlumuran cahaya...

Malamnya,

kan kucumbu rembulan yang tampak malu-malu

padahal aku tak sedang dan memang tak suka merayu

kan kukubur dia pada awan yang paling kelabu

hingga tak lagi menggangguku

dengan seringai senyumnya yang palsu....

Lalu, di pengembaraanku,

kan kutemukan kota-kota yang belum terjamah

lantas kucat dindingnya dengan merah sepekat darah

agar orang tahu akulah yang menemukannya

Aku NAIMAH.....

Menjadi pengembara aku selalu ingin

tapi bagaimana mungkin

padahal baru sejejak aku melangkah

dayaku mulai lemah

jiwaku pun telah lelah

aku sudah seperti kafilah yang tersesat di belantara sahara

kurindu sebuah rumah tempat aku bisa rebah istirah

mendudah resah diri yang payah...

Sepertinya aku sudah tak ingin menjadi pengembara

aku ingin pulang saja

pada rahim ibu tempat aku meringkuk nyaman dibalut cinta..

 

Monday, March 2, 2009

No Way......

kuterbangkan sayap lemahku 

menuju matahari,

dan kulebur mimpiku

di panas kawahnya,

hingga hangus dan menjadi abu

dan angin yang menderu

menerbangkannya ke negeri entah

yang tak bernama....